Belakangan, kata produktif atau produktivitas cukup banyak diperbincangkan di berbagai konten sosial media dan juga ruang-ruang pelatihan serta seminar. Banyak orang yang berlomba-lomba ingin menjadi produktif dengan berbagai macam alasan.
Tapi pertanyaannya, apakah kita sudah benar-benar produktif?
Apakah cara-cara yang selama ini kita anggap benar, sudah mencerminkan produktivitas?
Atau jangan-jangan, kita malah sibuk terjebak pada produktivitas semu?
Produktivitas semu artinya adalah menjadikan kesibukan sebagai indikator utama produktivitas. semakin sibuk, maka artinya semakin produktif. Tapi apakah benar seperti itu? Seringnya, kita hanya nampak “produktif” diluar saja namun sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa.
Ada beberapa miskonsepsi produktivitas yang sering diyakini oleh sebagian besar orang. Diantaranya:
- Produktivitas itu adalah menyelesaikan lebih banyak hal dengan waktu yang lebih sedikit.
- Produktivitas itu adalah hanya tentang urusan pekerjaan saja.
- Produktivitas itu adalah kerja keras tanpa henti.
- Produktivitas itu adalah harus mengikuti cara kerja orang lain yang kita anggap sukses.
Mari kita bahas satu persatu.
Produktivitas itu adalah menyelesaikan lebih banyak hal dengan waktu yang lebih sedikit.
Orang yang meyakini bahwa produktivitas adalah tentang “menyelesaikan lebih banyak hal dengan waktu yang lebih sedikit” biasanya akan cenderung miliki to-do list yang banyak setiap harinya. Sehingga tidak jarang cara kerjanya adalah multitasking. Yaitu mengerjakan beberapa hal secara bersamaan dalam satu waktu.
Efeknya, kita akan sangat rawan mengalami yang namanya burnout, fokus menjadi terpecah, sehingga mengasilkan kualitas kerja yang rendah. Alih-alih ingin mengerjakan banyak hal dengan waktu yang lebih singkat, kita malah harus menambah waktu lagi untuk ‘mengobati’ rasa burnout yang kita rasakan atau malah mengulangi pekerjaan yang belum sesuai dengan harapan.
Produktivitas itu adalah hanya tentang urusan pekerjaan saja.
Orang yang meyakini bahwa produktivitas hanya tentang urusan pekerjaan saja akan sangat rentang menganggap urusan diluar pekerjaan adalah hal yang remeh temeh. Seperti waktu kebersamaan dengan keluarga, berteman dan bertetangga, untuk diri sendiri, bahkan waktu untuk ibadah dan bermuhasabah.
Hidupnya akan senantiasa tidak seimbang dan memiliki kualitas hubungan yang buruk pada aspek-aspek lainnya diluar pekerjaan. Bahkan tidak menutup kemungkinan hal ini bisa mengakibatkan terjadinya fenomena “Post Power Syndrome” bila seseorang terlalu menggantungkan keberhargaan dirinya pada pekerjaan.
Produktivitas itu adalah kerja keras tanpa henti.
Miskonsepsi berikutnya tentang produktivitas adalah “kerja keras tanpa henti”. Miskonsepsi seperti ini biasanya akan terlihat dari bagaimana seseorang memaknai aktivitas dalam pekerjaannya. Dan yang paling sering terlihat adalah ketika seseorang terlalu mengglorifikasi kerja lembur, ataupun merasa bersalah ketika harus beristirahat dari pekerjaannya.
Fenomena seperti ini akan sangat rawan menyerang aspek kesehatan kita. Bukan hanya fisik, tapi juga bisa secara mental. Seperti merasa burnout, atau terjebak dalam rutinitas dan kehilangan daya kreativitas.
Produktivitas itu adalah harus mengikuti cara kerja orang lain yang kita anggap sukses.
Dan miskonsepsi yang terakhir adalah “mengikuti cara kerja orang lain yang kita anggap sukses”. Menjadikan orang lain sebagai patokan kesuksesan bukanlah hal yang salah. Namun, jika kita terlalu “FOMO” terhadap pencapaian dan juga cara orang lain mencapai hal tersebut, bisa jadi pola produktivitas otentik kita berbeda dengan orang lain. Atau bahkan, pencapaian yang kita inginkan pun bisa berbeda dengan orang lain.
Dan jika kita terlalu memaksakan diri mengikuti cara dan pencapaian orang lain, maka kita akan rentang mengalami insecure, cepat menyerah, dan merasa rendah diri karena selalu membandingkan pencapaian diri dengan orang lain.
Lantas, bagaimana solusinya? Mari kita sambung di tulisan selanjutnya.

