restu pratama restuism seni menjeda respons

Seni Menjeda Respons

Di usia pernikahan yang hampir menginjak lima tahun, alhamdulillah saat ini saya dan istri sudah dikaruniai seorang putra yang genap berusia tiga tahun. Dalam perjalanan lima tahun pernikahan, ada hal berbeda yang saya rasakan khususnya ketika di dua tahun pertama saat kami masih berdua, dengan tahun-tahun setelahnya saat kami sudah memiliki anak.

Di masa awal pernikahan, komunikasi dalam rumah tangga kami cenderung berjalan dengan baik dan nyaris tanpa ada kendala. Mengingat, semasa berta’aruf dulu saya merasa calon istri saya pada saat itu memiliki kesamaan dengan saya dalam hal berkomunikasi. Seperti senang berpikir secara kritis dan mendalam, senang berdiskusi alih-alih memutuskan secara sepihak, dan ditambah kami juga senang mendengarkan orang lain bercerita.

Dan kalaupun ada perselisihan, keterbukaan dalam berkomunikasi akan menjadi kunci dari penyelesaian masalah tersebut.

Namun, komunikasi itu mulai terasa menantang ketika kami sudah memiliki anak yang saat itu beranjak menjadi seorang toddler (anak usia 1-3 tahun yang sedang dalam fase pertumbuhan).

Dalam fase tumbuh kembangnya, ada banyak hal menarik yang sering kali penuh dengan kejutan yang tidak terduga. Mulai dari hal-hal lucu yang sering mengundang gelak tawa, hingga hal-hal di luar dugaan lainnya yang sering kali memancing emosi dan amarah saya.

Karena kondisi tersebut, saya cenderung menjadi lebih reaktif dalam memberikan respons ketika menyikapi stimulus yang datang. terutama dalam hal emosional yang seringnya menimbulkan rasa marah.

Spontanitas emosional tersebut memang seketika terasa melegakan karena bisa melampiaskan apa yang saat itu saya rasakan. Tapi seringnya yang terjadi adalah muncul perasaan menyesal setelahnya.

Pada titik itu, saya menyadari bahwa manajemen emosi saya memang masih buruk dan perlu untuk segera di perbaiki.

Dalam perjalanan saya mendewasakan manajemen emosi ini, saya mengenal satu istilah baru yang sangat luar biasa memberikan dampak positif dalam hidup saya. Yaitu yang dikenal dengan istilah ‘Seni Menjeda Respons.’

Emosi yang muncul secara tiba-tiba sering kali membuat kita menjadi sangat reaktif dan spontan dalam memberikan respons. Jika emosi yang muncul adalah marah, maka respons spontan yang kita keluarkan juga akan menggambarkan kemarahan tersebut.

Padahal jika mau kita telaah lebih dalam, emosi yang muncul dan respons yang kita berikan adalah dua hal yang berbeda. Emosi adalah hal spontan yang kita rasakan yang sering kali berada di luar kendali kita. Sedangkan respons kita atas emosi yang muncul adalah hal yang ada dalam kendali kita.

Kita tidak bisa mengatur emosi apa yang kita rasakan atas stimulus tertentu, tapi kita bisa mengendalikan respons apa yang ingin kita berikan atas emosi tersebut. Sehingga, agar respons yang kita berikan tepat, perlu ada jeda untuk berpikir sejenak.

Menarik jika kita cermati kalimat berikut. Bahwa, “kita tidak bisa mengendalikan ucapan serta tindakan orang lain, tapi sering kali kitalah yang mengizinkan diri kita untuk disakiti oleh perkataan serta tindakan orang tersebut.” Hal ini menunjukkan bahwa respons kita pada emosi tertentu sepenuhnya ada dalam kendali kita.

Emosi yang dirasakan atas stimulus tertentu pada manusia adalah hal yang fitrah dan sangat wajar terjadi. Tapi perlu di ingat, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan keleluasaan kepada kita dengan memberikan pilihan berupa respons apa yang ingin kita lakukan atas emosi yang dirasakan itu.

Dengan kita memberi jeda pada diri sebelum merespons emosi yang datang, kita akan mudah untuk berpikir lebih jernih dan matang dalam menindaklanjutinya. Sehingga, kita akan lebih dewasa dan positif dalam memberikan respons terhadap stimulus tersebut.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *