Budaya Menunda & Risikonya restu pratama @restuism

Budaya Menunda & Risikonya

Ada sebuah anekdot yang sering dilontarkan oleh orang-orang di sosial media tentang kebiasaan buruk orang Indonesia. Salah satunya adalah tentang menepati janji temu.

Anekdotnya kurang lebih seperti ini: “jangan percaya kalau temanmu bilang ‘otw’ saat ia belum tiba sesuai dengan waktu yang sudah disepakati. Karena bisa jadi sebenarnya ia baru akan pergi ke kamar mandi atau justru baru bangun dari tempat tidur.”

Terdengar sangat menggelitik, namun mirisnya itulah realita yang terjadi pada sebagian besar orang.

Menurut Dr. Piers Steel (seorang profesor di bidang Perilaku Organisasi dan Sumber Daya Manusia), 95% orang punya kebiasaan menunda-nunda.

Jadi, apa itu ‘menunda’?

Kalau menurut Tim Pychyl (penulis buku Solving The Procrastination Puzzle), menunda (delay) memiliki arti yang berbeda dengan kebiasaan menunda-nunda (procrastination). Menurutnya, setiap penundaan pasti akan melibatkan aktivitas menunda di dalamnya. Tapi tidak semua aktivitas menunda itu berarti penundaan.

Karena penundaan selalu memiliki dua sisi di dalamnya. Penundaan yang bersifat positif, dan juga yang bersifat negatif. Keduanya ditentukan oleh seberapa besar prioritas atau manfaat yang di dapatkan.

Penundaan akan bersifat positif jika yang kita tunda adalah hal yang tidak bermanfaat atau memiliki prioritas yang rendah dalam hidup kita. Namun itu akan menjadi negatif jika hal yang kita tunda memiliki prioritas tinggi dan dengan menundanya akan mendatangkan risiko yang besar.

Pada tulisan kali ini, kita akan membahas tentang penundaan yang bersifat negatif atau sering disebut dengan istilah Procrastination.

Procrastination diambil dari bahasa Latin, yaitu procrastinatus. Dimana pro artinya “bergerak ke depan/maju” dan crastinus yang artinya “milik hari esok.” Sehingga jika diartikan secara bebas, maknanya bisa berarti “menunda untuk mengerjakan sesuatu hingga hari esok.”

Padahal seperti yang kita tahu, ‘hari esok’ adalah sebuah paradoks dimana sebenarnya hari itu tidaklah benar-benar ada. Kenapa? Karena kita hidup untuk hari ini. Hari esok yang direncanakan sering kali akan terasa sama seperti hari ini ketika kita menjalaninya nanti. Sehingga kita akan terus menerus menundanya sebagaimana kita menundanya hari ini, yang juga saat kemarin kita sebut sebagai hari esok. Terus menerus seperti itu.

Efek saat kita melakukan prokrastinasi mungkin akan terasa menyenangkan diawal-awal. Kita akan berusaha mencari ‘kenikmatan’ untuk lari dari tanggung jawab utama kita. Kita merasa senang, nyaman, dan lepas dari beban yang menghantui.

Tapi satu hal yang harus disadari, bahwa Prokrastinasi tidaklah benar-benar akan bisa menghilangkan beban dan tanggung jawab yang kita miliki, melainkan hanya membuat kita lupa sampai akhirnya tersadar dan kembali dengan beban masalah yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

Menunda untuk menyelesaikan tugas kuliah hingga akhirnya harus mengulang di semester berikutnya.

Menunda untuk memperbaiki kendaraan hingga akhirnya kerusakannya semakin parah dan biaya yang dikeluarkan menjadi lebih besar dari seharusnya.

Menunda untuk mendiskusikan masalah kecil dengan pasangan hingga akhirnya terus menumpuk dan menjadi besar dan kemudian terlontarkan dalam emosi yang meluap-luap.

Dan efek buruk yang lainnya. Ya, semua hanya karena kebiasaan menunda-nunda.

Lalu, bagaimana solusinya? Mari kita bahas di tulisan yang selanjutnya, ya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *