restu pratama restuism esensialis esensialisme

Berpikir ala Esensialis

Dalam hidup kita sering dihadapkan pada banyak pilihan. Dan dari pilihan-pilihan tersebut, sering kali kita merasa bahwa semua pilihan itu terasa penting. sehingga pada akhirnya kita memilih untuk mengambil semua pilihan yang ada dan menjalankannya.

Dan coba tebak, bagaimana hasilnya?

Alih-alih kita ingin mendapatkan semuanya, yang ada kita hanya akan kehilangan sebagian besarnya. Yang tadinya kita berpikir bisa menyelesaikan sebanyak-banyaknya, akhirnya yang ada tak satu pun yang benar-benar tuntas diselesaikan.

Dalam hal mendalami keilmuan pun, yang harusnya kita bisa menjadi ahli dalam satu bidang tertentu, pada akhirnya kita hanya akan mencukupkan diri pada level ‘bisa’ dalam banyak hal. Kita hanya akan tahu seperti apa dari luarnya tanpa benar-benar paham seperti apa di dalamnya.

Itulah konsekuensi dari meng-iya-kan terlalu banyak pilihan dalam hidup.

Satu hal yang tidak bisa kita hindarkan adalah bahwasanya waktu, tenaga dan juga fokus kita sangatlah terbatas. Kita bisa saja menginginkan banyak hal dalam hidup, tapi kita juga harus paham bahwa tidak semuanya benar-benar bisa kita dapatkan.

Ada berbagai hal yang harus kita korbankan ketika kita akan fokus mengejar hal yang lainnya.

Bagi seorang Esensialis, istilah ini disebut dengan trade-off. Trade-off adalah kemampuan kita untuk memilih satu hal yang paling penting di antara pilihan-pilihan penting lainnya.

Seorang Esensialis paham betul bahwa waktu, tenaga dan fokusnya sangatlah terbatas. Sehingga pilihan-pilihannya dalam hidup akan menentukan ke mana alokasi sumber dayanya tersebut akan disalurkan.

“Apa 20% hal yang bisa saya lakukan yang akan memberikan dampak 80% pada hasilnya?” Di situlah seorang Esensialis akan menjalankan perannya.

Tentu, tidak semua kondisi bisa ideal untuk kita terapkan persis seperti apa yang seorang Esensialis lakukan. Tapi setidaknya, dengan kita paham prinsip dari trade-off ini, kita akan tahu dan sadar sudah seberapa selaras mimpi yang kita inginkan dengan aktivitas yang kita lakukan. Sudah seberapa selaras hasil yang kita dapatkan dengan sumber daya yang sudah diberikan.

Pertanyaannya, apakah semuanya selaras dan sepadan? Mari kita renungkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *