Diriwayatkan dalam sebuah hadits, Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara
(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
(5) Hidupmu sebelum datang matimu.”
(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih).
sumber: https://rumaysho.com/5022-manfaatkanlah-5-perkara-sebelum-menyesal.html
Pagi hari ini, saat hendak melaksanakan salat Subuh berjamaah di masjid, ada satu pemandangan menarik yang tidak sengaja saya amati. Ketika Iqomah sudah di kumandangkan dan orang-orang bergegas untuk mengisi shaf paling depan, saya diapit oleh 3 orang tua paruh baya yang seluruhnya salat dalam kondisi ‘khusus’.
Dua orang di samping kanan saya, yang satu berdiri dengan sedikit agak terbungkuk dan terlihat gemetar saat hendak akan rukuk, sujud, dan bangkit dari sudut. Dan yang satunya lagi salat dengan keadaan duduk, sejak sedari awal.
Dan satu orang lagi di sisi kiri saya, salat dengan posisi berdiri sembari lengan kirinya bertumpu pada kusen jendela masjid karena sudah tidak bisa lagi berdiri dengan keadaan sempurna tanpa penopang.
Maha suci Allah dengan segala apa yang telah disaksikan oleh kedua mata ini dan pelajaran berharga yang terkandung di dalamnya. Momen itu menjadi ujian terberat saya untuk tetap menjaga khusyuk dalam salat.
Selepas salat, saya langsung teringat dengan hadits diatas. Saya sadar bahwa sering kali raga yang sehat dan waktu yang luang justru membuat kita lalai dan terlena dengan keadaan. “Nanti aja deh”, “Besok juga bisa kan?”, “gak apa-apa kok, masih sehat. Gak perlu olahraga sekarang.” dan alasan penundaan lainnya. Seolah-olah menunjukkan bahwa raga kita masih kuat dan waktu luang kita masih banyak.
Padahal tanpa kita sadari, hari ini yang kita lalui begitu saja dengan banyaknya penundaan adalah harapan dari seseorang yang saat ini sedang terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit. Bahkan, hari ini yang kita lalui dengan sia-sia, adalah harapan dari seseorang ingin hidup lebih baik walau akhirnya ajal telah sampai tadi malam.
Ada alasan kenapa Allah masih memberikan kita nikmat hidup dan sehat sampai hari ini. Cari, dan amalkan jawabannya. Jangan di sia-siakan.
Wallahu’alam.

