restu pratama restuism

Ketika Manusia Membuat Aturan, Adilkah?

Sebagai makhluk yang memiliki akal, manusia akan mampu untuk berpikir secara logis, kritis dan juga filosofis. Sehingga dengan kemampuannya tersebut bisa menghasilkan ide dan juga pemikiran yang bersifat objektif dan common sense.

Dan karena manusia juga adalah makhluk sosial, tidak jarang ide serta pemikirannya sering kali dilandaskan pada kepentingan serta kebermanfaatan yang ditujukan bagi orang lain. Tidak sekadar hanya untuk dirinya sendiri.

Namun, di samping dua hal tersebut manusia juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala ciptakan dengan memiliki keistimewaan lainnya yaitu berupa hawa nafsu. Dan karena hawa nafsu tersebut, terkadang juga muncul sisi ‘manusiawi’ dari seseorang yang merasa perlu untuk di salurkan.

Hawa nafsu ini sering kali dikaitkan dengan sisi emosi pada manusia. Baik itu emosi yang sering dipandang negatif seperti marah, sedih, dan kecewa. Ataupun emosi yang sering kali dipandang positif seperti perasaan semangat, optimis, dan bahagia.

Di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, kita dituntut untuk dewasa serta bijaksana menggunakan ketiga potensi tersebut. Baik itu kemampuan akal dalam berpikir, kebutuhan dalam bersosial, maupun mengontrol hawa nafsu.

Karena jika kita tidak benar-benar menggunakan ketiga potensi tersebut secara tepat, kita akan mudah bersinggungan dan berkonflik dengan kepentingan orang lain. Yang juga sama-sama punya akal, kebutuhan sosial dan juga hawa nafsu.

Tapi pertanyaannya, kepentingan siapa yang harus di dahulukan? Bagaimana caranya meminimalisir terjadinya konflik? Atau lebih dalam lagi, seperti apa aturan yang benar? Dan bagaimana memastikan bahwa aturan itu memang benar?

Di dalam agama Islam, Allah mengutus nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam ke bumi sebagai pembawa Risalah, yaitu Al-Qur’an. Di mana di dalamnya Al-Qur’an memuat berbagai kebenaran yang Allah turunkan untuk mengatur umat manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagai sang pencipta manusia tahu betul bahwa manusia pasti akan mudah untuk berkonflik dan menyakiti satu sama lain. sehingga melalui RasulNya, Allah menurunkan aturan-aturan tersebut.

Dan nabi Muhammad pun sebagai seorang manusia yang diamanahi membawa risalah tersebut, mengajarkan aturan-aturannya dengan sangat detail dan teliti. Beliau tidak hanya menyampaikannya saja kepada para Sahabat dan pengikutnya, tetapi juga mencontohkannya dalam kehidupan beliau sehari-hari. Bahkan, hingga diamnya beliau pun menjadi pembelajaran bagi para Sahabat. Itulah yang disebut dengan As-Sunnah atau Hadits.

Sehingga, jika kembali pada pertanyaan di awal tadi mengenai “seperti apa aturan yang benar? Dan bagaimana memastikan bahwa aturan tersebut memang benar?” Maka kita harus tahu terlebih dahulu siapa yang menciptakan manusia. Karena hanya Sang Pencipta lah yang paling tahu tentang ciptaannya. maka aturan terbaik untuk manusia adalah Al-Qur’an.

Dan agar Al-Qur’an ini mudah untuk diikuti oleh manusia, Allah menurunkannya melalui Rasulnya (yang juga seorang manusia) agar Ia bisa menjadi suri tauladan yang baik bagi manusia yang lainnya. Mulai dari perkataannya, perbuatannya, bahkan hingga diamnya beliau.

Maka, di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 213 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةًۗ فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَۖ وَاَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِۗ وَمَا اخْتَلَفَ فِيْهِ اِلَّا الَّذِيْنَ اُوْتُوْهُ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْۚ فَهَدَى اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِاِذْنِهٖۗ وَاللّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ 

Artinya:

Manusia itu (dahulunya) umat yang satu (dalam ketauhidan). (Setelah timbul perselisihan,) lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidak ada yang berselisih tentangnya, kecuali orang-orang yang telah diberi (Kitab) setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Maka, dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *