restu pratama restuism

Strategi Membangun Reputasi Meski Belum Menjadi Ahli

Dalam sebuah wawancara televisi, Steve Martin -komedian terkemuka di Amerika- pernah ditanya mengenai “bagaimana caranya membangun karier di dunia entertainment hingga bisa sukses seperti sekarang?” Dia menjawab, “Be so good, they can’t ignore You”.

Ya, jadilah sangat ahli sampai mereka tidak bisa mengabaikanmu.

Manfaat menjadi seorang ahli adalah kita bisa mendapatkan pengakuan yang tulus dari banyak orang karena penguasaan yang mendalam atas keahlian tersebut. Sekaligus juga bisa mendatangkan banyak peluang kerjasama dari berbagai pihak tanpa harus kita yang bersusah payah mencarinya.

Tapi pertanyaannya, apakah benar seperti itu? Berapa lama waktu yang diperlukan untuk benar-benar menjadi seorang ahli? Dan apakah selama kita belum menjadi ahli itu artinya kita tidak boleh untuk “menjual” kemampuan kita?

Faktanya, setiap peluang yang hadir dalam hidup kita tidak pernah lepas dari dua faktor ini. Yaitu:

Value x Reputation

Jika kita hanya fokus mengasah value kita dan tidak pernah mencoba untuk membangun reputasi, maka tidak akan ada orang yang tahu tentang keahlian kita. Kita hanya akan disibukan dengan aktivitas marketing dan promosi untuk menjajakan karya ataupun keahlian kita kepada orang lain. Hingga tak jarang keahlian kita akan di bayar dengan sangat rendah hanya karena kita tidak punya nilai ‘istimewa’ di mata orang tersebut.

Tapi kalau kita hanya fokus mengembangkan reputasi saja tanpa punya value yang matang dan kompeten, itu juga sama saja. Ibarat sebuah balon, kita hanya akan terlihat besar diluar, tapi terasa ‘kosong’ ketika di dalam. Hal ini bisa sangat rentan mengecewakan banyak orang karena apa yang nampak di permukaan, tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Maka, kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan.

Di era sosial media seperti sekarang, membangun reputasi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Dan cara yang paling mudah adalah dengan membuat ‘konten.’

Ketika kita secara konsisten membuat sebuah konten dengan tema, topik dan ciri khas tertentu, lama kelamaan reputasi kita akan terbangun di benak publik dan perlahan akan ada banyak orang yang mengenal kita.

Namun pertanyaannya, reputasi apa yang ingin kita bangun? Pesan apa yang secara konsisten ingin kita bagikan kepada publik? Atau, apakah akhirnya kita hanya akan terjebak pada popularitas tanpa adanya value?

Disinilah jalan keluar terbaiknya.

Untuk menjadi seorang ahli, tentu ada banyak hal yang perlu dipelajari dan di dalami agar ilmu tersebut bisa benar-benar kita pahami dan implementasikan.

Sembari berproses menjadi seorang ahli, tuangkanlah setiap catatan dalam bentuk konten sosial media agar pembelajaran tersebut terdokumentasikan. Dan perlahan, publik juga akan tahu bahwa kita sedang dalam proses mempelajari keilmuan tersebut dan mengikuti perkembangannya.

Lama kelamaan, ketekunan kita dalam belajar akan membawa kita menjadi seorang ahli dalam bidang tersebut, sekaligus konsistensi kita dalam mendokumentasikan pembelajaran juga akan membentuk reputasi di mata publik.

Dari situlah peluang secara perlahan akan mulai berdatangan.

Maka, jangan terjebak pada stigma “hanya seorang expert saja yang boleh untuk berbagi”. Sebagai seorang pembelajar, kita juga berhak membagikan sudut pandang kita dengan tujuan mendokumentasikan catatan pembelajaran melalui konten sosial media.

Maka, apa yang disampaikan oleh Gary Vee menjadi hal yang menarik untuk kita jadikan kesimpulan. Yaitu, “Document. Don’t create.”

Jangan fokus pada hasil sempurna yang diharapkan, tapi fokuslah pada pertumbuhan diri setiap harinya.
Mari bertumbuh bersama 1% setiap harinya dengan mengikuti Instagram saya di https://instagram.com/restuism.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *