restu pratama restuism

Kerja Keras Itu Gak Penting! Benarkah?

Sejak kecil kita diberitahu bahwa kunci dari kesuksesan adalah bekerja keras. Hanya orang-orang yang berani untuk bekerja keraslah yang kelak akan meraih kesuksesannya.

Tapi faktanya kita sering melihat di sekitar kita ada orang-orang yang sudah bekerja dengan sangat keras namun belum juga memperoleh kesuksesannya. Bahkan Ia cenderung frustrasi dan tidak menyukai apa yang ia kerjakan.

Pertanyaannya, kerja keras seperti apa yang menghantarkan pada kesuksesan tersebut? Apakah setiap kesuksesan pasti berasal dari kerja keras? Lantas, jika kita sudah bekerja dengan sangat keras apakah itu menjadi jaminan bahwa kelak kita akan sukses?

Ada sebuah kisah menarik yang disampaikan oleh Greg McKeown di dalam bukunya yang berjudul “Esensialisme”. Yaitu tentang pengalaman hidupnya ketika berusia 12 tahun. 

Karena ingin mendapatkan uang jajan tambahan, McKeown memutuskan melakukan pekerjaan sampingan yaitu menjadi seorang pengantar koran. Setiap harinya sebelum berangkat sekolah ia harus mengantarkan 1 tas besar berisi banyak koran ke pintu-pintu rumah selama 1 jam. Dan dari pekerjaan tersebut Ia mendapatkan upah sebesar 1 Pounds setiap harinya.

Karena pekerjaan tersebutlah akhirnya membentuk sebuah mindset di kepala McKeown bahwa ketika ia hendak ingin membeli sesuatu, maka ia akan mengkonversi harganya menjadi berapa jumlah hari yang harus ia habiskan untuk mengantarkan koran.

Semakin mahal harga yang perlu dibayar, maka semakin banyak juga hari yang harus dihabiskan untuk mengantarkan koran.

Di lain kesempatan McKeown mencoba melakukan pekerjaan lain dengan menjadi seorang tukang cuci mobil. Dari pekerjaan tersebut, dalam satu jam ia bisa mencuci sebanyak tiga buah mobil dan mendapatkan bayaran sebesar 2 Pounds untuk setiap mobilnya. 6x lipat lebih besar dari upah di pekerjaan sebelumnya.

Dari pengalaman tersebut ia mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa ternyata jenis-jenis pekerjaan tertentu bisa menghasilkan imbalan jauh lebih tinggi daripada yang lainnya. Meskipun jumlah waktu yang dikeluarkannya sama.

Itu jugalah yang menjadi cikal bakal dari pemikirannya tentang Esensialisme. Bahwa lebih sedikit yang dikerjakan (namun esensial) akan jauh lebih baik ketimbang mengerjakan banyak hal (yang non-esensial) hanya agar terlihat sibuk.”

Maka jika kerja keras kita hari ini hanya menimbulkan rasa frustrasi, bisa jadi kita belum benar-benar fokus pada hal-hal yang esensial. Tapi kita terjebak pada hal-hal yang non-esensial.

Bekerja keras itu penting. Namun, bekerja lebih keras tidak selalu berarti memberikan hasil yang lebih banyak. Sebaliknya, sesuatu yang lebih sedikit bisa menghasilkan jauh lebih banyak jika kita tahu mana hal yang esensial yang harus kita kerjakan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *